Aneka Nama Kue Khas Medan & Sejarahnya yang Terkenal, Catat Yuk!

Aneka Nama Kue Khas Medan

Nama Kue Khas Medan – Ketika kamu berkunjung ke Medan, salah satu daya tarik yang tidak boleh dilewatkan adalah ragam kulinernya. Selain makanan berat seperti mie gomak, soto Medan, atau nasi daun, kota ini juga terkenal dengan aneka kue tradisional yang kaya rasa. Nama Kue Khas Medan sangat banyak, dan menariknya, setiap kue membawa cerita tentang budaya yang beragam, mulai dari Melayu, Tionghoa, Batak, hingga India.

Keragaman budaya tersebut membuat jenis kuenya beraneka, baik dari segi bahan, teknik pengolahan, maupun cita rasa. Itulah yang menjadi alasan mengapa Medan disebut sebagai salah satu “pusat kuliner Nusantara” yang wajib dieksplor. Terutama bagi pendatang yang ingin mengenal makanan khas daerah.

Mengenal nama-nama kue khas Medan akan sangat membantumu ketika berburu oleh-oleh ataupun saat menjelajahi kuliner lokal. Banyak pendatang akhirnya merasa bingung saat berhadapan dengan begitu banyak pilihan makanan tradisional yang namanya asing di telinga. 

Oleh karena itu, artikel ini akan membantu kamu mengenal lebih dekat jenis-jenis kue khas Medan, berikut asal budaya yang memengaruhi rasa dan bentuknya. Mari kita mulai penelusuran manis ini!

Aneka Nama Kue Khas Medan Sumatra yang Terkenal

Medan memiliki daftar panjang kue tradisional yang terkenal. Keberagaman ini tercipta dari akulturasi budaya yang hidup berdampingan selama ratusan tahun. Secara umum, kuliner Medan dipengaruhi oleh budaya Melayu, Tionghoa, Batak, dan India. Inilah yang membuat cita rasanya unik dan tidak membosankan.

Di bawah ini, kamu akan menemukan daftar lengkap kue-kue populer berdasarkan pengaruh budaya. Setiap bagian akan menjelaskan ciri khas yang membedakannya dari daerah lain.

1. Dari Pengaruh Budaya Melayu

Aneka Nama Kue Khas Medan yang konik
Kue Jongkong

Kue-kue khas Melayu di Medan umumnya memiliki cita rasa manis dan lembut, dengan bahan dasar yang banyak menggunakan santan, gula, serta tepung beras. Warnanya sering beragam dan tampil cantik, seperti hijau pandan, kuning, atau cokelat gula aren.

Beberapa contoh yang populer:

  • Bika Ambon: Tekstur bersarang, harum, manis lembut.
  • Lapis Legit: Tersusun berlapis, kaya rasa rempah.
  • Putu Bambu: Isian gula merah dalam taburan kelapa.
  • Kue Jongkong: Lembut, manis, bercampur santan dan pandan.
  • Kue KociK Berbungkus daun pisang, berbahan ketan.
  • Lupis : Ketan padat disiram gula aren.
  • Kue Talam: Perpaduan manis dan gurih dengan dua lapis.
  • Kue Cucur: Tepung beras yang digoreng, renyah tengah lembut.
  • Timbosa / Timpa: Ketan berisi kelapa manis.
  • Kue Putri Mandi: Bola ketan dengan kuah santan manis.

Ciri utama kue Melayu adalah kelembutan rasa, bahan sederhana, dan teknik masak tradisional yang masih dipertahankan hingga kini.

2. Dari Pengaruh Budaya Tionghoa

Kue Pengaruh Tionghoa
Kue Keranjang (Nian Gao)

Medan dikenal sebagai salah satu kota dengan pengaruh Tionghoa terkuat di Indonesia. Tidak heran, banyak kue di sini merupakan adopsi dari budaya tersebut. Kue-kue ini umumnya memiliki teknik panggang atau kukus yang detail, dengan isian seperti kacang merah, wijen, dan durian.

Daftar kue yang terkenal:

  • Kue Keranjang (Nian Gao)
  • Bakpia Medan
  • Bolu Gulung Meranti
  • Kue Ku / Ang Ku Kueh
  • Bakpao
  • Bolu Durian / Lapis Durian
  • Kue Bulan (Mooncake)

Banyak bakery di Medan mengembangkan resep ini dengan sentuhan lokal, misalnya bolu gulung dengan banyak varian rasa atau bakpia khas berisi durian.

3. Kue Khas Medan dari Budaya Batak

Nama Kue Khas Medan yang Terkenal
Lampet / Lappet

Kue-kue khas Batak dikenal sederhana, berbahan dasar hasil alam seperti tepung beras, gula aren, hingga umbi-umbian. Rasanya cenderung tidak terlalu manis, tetapi aromanya khas karena banyak menggunakan daun pisang.

Beberapa contoh kue Batak:

  • Lampet / Lappet
  • Ombus-Ombus
  • Sasagun
  • Dali-Dali Cake (modern)
  • Gota-goti / Gule-gule
  • Itak Gurgur / Itak Pohul-Pohul

Kue-kue ini sering disajikan pada upacara adat sebagai simbol syukur dan kebersamaan.

4. Dari Pengaruh India / Tamil

Kue Khas Medan dipengaruhi India
Roti Canai Tissue

Budaya India atau Tamil juga memberi warna tersendiri pada kuliner Medan, terutama di kawasan Kampung Keling (Little India). Meski tidak semuanya berbentuk kue, roti-roti ini tetap dianggap sebagai panganan khas yang wajib dicicipi.

Contoh hidangan:

  • Roti Canai
  • Roti Tissue
  • Appam
  • Roti Naan

Rasanya cenderung gurih dengan rempah, cocok sebagai pendamping teh atau kari.

Baca juga: 5 Minuman Khas Medan Saat Hujan untuk Menghangatkan Tubuh

Kue Khas Medan yang Paling Ikonik & Sejarah Namanya

Dari sekian banyak nama kue khas Medan, beberapa di antaranya sangat ikonik dan menjadi favorit wisatawan. Berikut penjelasan mendalam tentang sejarah dan kisah menarik di balik namanya.

1. Bika Ambon

Apakah Bika Ambon Ada yang Palsu atau Bukan “Resep Medan”

Bika Ambon mungkin menjadi kue paling terkenal dari Medan. Meski mengandung kata “Ambon,” kue ini bukan berasal dari Ambon di Maluku. Nama ini dipercaya berasal dari kawasan “Jl. Ambon” di Medan, tempat kue ini pertama kali populer. Teksturnya bersarang karena proses fermentasi nira, menjadikannya kenyal dan harum. Kue ini biasanya disajikan untuk tamu atau sebagai oleh-oleh.

2. Bolu Gulung Meranti

Cerita Dibalik Anggapan “Bolu Meranti Khas Medan”

Bolu gulung Medan menjadi populer berkat toko Meranti. Awalnya berupa bolu gulung sederhana, namun berkembang menjadi hidangan premium dengan tekstur lembut dan isian bervariasi seperti keju, cokelat, atau durian. Nama “Meranti” mengacu pada lokasi toko pertamanya, dan kini dikenal sebagai oleh-oleh khas yang wajib dibawa pulang.

3. Pancake Durian

Kreasi modern ini memadukan kulit lembut berwarna hijau pucat dengan isian daging durian dan krim. Pancake durian menjadi favorit karena menyajikan durian dalam bentuk yang lebih elegan dan mudah dibawa. Popularitasnya menyebar seiring meningkatnya wisata kuliner di Medan.

4. Kue Khas Medan Sasagun

kue sasagun

Nama “Sasagun” berasal dari bahasa Batak, yang pada dasarnya merujuk pada proses mengaduk–mengolah bahan menjadi makanan kering berbentuk butiran halus.

Secara etimologis, kata sasagun diyakini berasal dari kata dasar “sagun”, yaitu serbuk makanan dari tepung beras sangrai yang dicampur dengan kelapa dan gula. Proses pembuatannya dilakukan dengan cara mengaduk secara terus-menerus di atas wajan panas agar tepung dan kelapa menyatu tanpa menggumpal. Karena itulah nama sasagun melekat, lebih merepresentasikan bentuk serta cara pengolahannya.

Dalam tradisi Batak, sasagun bukan hanya sekadar makanan ringan. Makanan ini diberikan kepada anak atau kerabat yang akan merantau, sebagai simbol bekal hidup, doa, dan cinta keluarga. Teksturnya yang ringan dan tahan lama juga cocok sebagai bekal perjalanan jauh, sehingga semakin memperkuat perannya dalam budaya Batak.

Singkatnya:

  • Berasal dari kata sagun (makanan kering dari tepung beras sangrai + kelapa + gula).
  • Namanya merujuk pada proses pengolahan (disangrai & diaduk).
  • Dibuat sebagai makanan bekal bagi perantau → bermakna simbolis.

5. Kue Khas Medan Ombus-Ombus

Kue ini terbuat dari tepung beras dengan isian gula merah, dibungkus daun pisang dan dikukus. Namanya berasal dari kata “mengembus”—kamu harus meniup (meng-ombus) kue ini saat panas sebelum memakannya. Kue ini sering hadir pada acara adat dan pertemuan keluarga.

6. Lampet / Lappet

Nama “Lampet” atau “Lappet” berasal dari bahasa Batak dan diyakini merujuk pada bentuk serta tekstur kue tersebut. Di beberapa penuturan masyarakat Batak, kata “lappet” digunakan untuk menyebut sesuatu yang menguncup / terikat rapat, sesuai bentuk khas kue ini yang padat dan terbungkus rapi.

Lampet atau lappet mirip dengan ombus-ombus, tetapi lebih padat dan kenyal karena terbuat dari tepung beras atau ketan yang dicampur gula merah. Bentuknya kerucut kecil dan dibungkus daun pisang. Rasanya sederhana, tetapi aromanya khas dan menenangkan.

Baca juga: 7 Minuman Tradisional Khas Medan Sumatra yang Populer

Suka Makanan Khas Medan? Tempat Ini Layak Dikunjungi

Authentic Medan Cuisine

Kalau kamu sedang berada di Medan, ada satu tempat yang wajib masuk daftar kuliner kamu: Kedai “Mie Ayam Jamur H. Mahmud.”

Jangan salah, meski mie ayam adalah ikon utamanya, kedai ini juga menyajikan berbagai hidangan khas Medan lainnya. Kamu dapat menemukan beragam kuliner dan minuman lokal, termasuk oleh-oleh khas Medan yang terkenal.

Kalau masih ragu, kamu bisa cek media sosial mereka atau langsung buka situs resminya di mieayammahmud.com. Kamu juga dapat menghubungi kontak yang tersedia jika ingin memesan dari jarak jauh—kadang ada promo menarik yang sayang dilewatkan.

Tempatnya luas, ramah untuk keluarga, buka dari pagi hingga malam, dan pastinya halal. Jadi, kamu bisa menikmati sarapan, makan berat, hingga makanan penutup dalam satu tempat yang nyaman.

Jika kamu berkesempatan singgah di kota ini, siapkan ruang di perut dan waktu lebih untuk berburu rasa. Jangan lupa singgah ke Mie Ayam Jamur H. Mahmud untuk pengalaman kuliner yang lengkap!

Selamat menjelajah rasa di kota Medan!

Artikel Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top